ARLINDO
(Arus Lintas Indonesia)
Oleh:
Marissa Septa Hanifa_MSP_FPK_ULM_2019
Penelitian Oseanografi selalu
berkaitan dengan kondisi di laut. Salah satunya yaitu arus. Posisi Indonesia secara
geografis diapit oleh dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Posisi Indonesia juga tepat diantara garis ekuator yang memiliki iklim tropis
dan radiasi matahari paling banyak diserap. Dewasa ini, penelitian oseanografi
sedang ramai membicarakan tentang Arlindo. Arus Lintas Indonesia (ARLINDO)
disebabkan pertukaran arus antar samudra yang dipengaruhi oleh
selat-selat di Indonesia, merupakan koridor yang sangat menentukan atau sangat
berpengaruh dalam berfungsinya sistem sirkulasi global itu. Oleh karenanya
pemahaman akan proses-proses yang terjadi di koridor sempit itu sebagai Arlindo
menjadi sangat penting artinya dalam kajian oseanografi global.
Berikut kita ulas secara lengkap apa itu
ARLINDO.
Istilah
Arlindo diintroduksi oleh Dr. Abdul Ghani Ilahude dari LIPI. Sudah dikenal dan
dipergunakan juga dalam literature-literatur Internasional. Dalam Bahasa
Inggris dikenal dengan sebutan “ITF”, yakni Indonesian Through Flow. Arlindo
atau Arus Lintas Indonesia merupakan aliran atau transport massa air yang
mengalir terutama pada lapisan termoklin dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia
melalui selat-selat di perairan Indonesia. Lapisan termoklin adalah lapisan
suhu pada kolom air turun cepat terhadap kedalaman. Lapisan ini memiliki kedalaman
sekitar 75-200 meter dengan lokasi yang bervariasi dan musim yang berbeda. Kehadiran
ARLINDO ini menambah kompleksnya proses fisis yang terjadi di perairan Indonesia.
Sebagai contoh adalah proses mixing/percampuran dua massa air yang berbeda, upwelling,
downwelling dan sebagainya. Proses-proses tersebut membawa pengaruh luas,
tidak saja bagi bidang oseanografi, tetapi juga bagi bidang-bidang lain seperti
perikanan, cuaca/iklim serta lingkungan laut dan pantai.
Dalam keadaan normal, di atas Pasifik bertiup angin pasat tenggara
sepanjang tahun. Tenaga gesekan angin ini bcrfungsi mendorong massa air Pasifik
ke arah barat. sehingga terjadilah "penumpukan" massa air di Pasifik
bagian barat yang berada dekat dengan Indonesia. Sebagai akibat terjadinya
perbedaan tinggi permukaan air antara Pasifik bagian barat dengan Samudera
Hindia yang berada di selatan Indonesia. Menurut WYRTKI (1987). perbedaan
tinggi antara dua permukaan Samudera ini nilainya bervariasi. Pada waktu monsun
tenggara (Bulan Mei-September) perbedaan tinggi muka lautan ini mencapai
maksimum, setinggi 28 cm, yang diukur antara Davao, Filipina (Pasifik) dan Darwin,
Australia (Hindia). Sebaliknya pada waktu monsun barat (Bulan Oktober-Maret)
perbedaan tinggi permukaan dua lautan ini nilainya berada pada titik terendah,
yakni kurang dari 10 cm. Perbedaan ketinggian muka lautan inilah yang
menyebabkan terjadinya gradien tekanan yang kemudian menimbulkan perpindahan
massa air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia.
Ada beberapa alasan mengapa Arlindo mendapat
perhatian dunia, yaitu:
(1) Alasan pertama, perairan laut di Indonesia
merupakan satu-satunya jalur yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra
Hindia di lintang rendah atau di daerah tropis. Arus yang melewati selat-selat
di Indonesia berarti harus melewati koridor sempit dan karenanya merupakan
titik-titik hambat (choke points) yang sangat menentukan dan
mempengaruhi sirkulasi samudra raya yang dikenal sebagai Sabuk Penghantar
Samudra Raya (the Great Ocean Conveyor Belt), karena menghantarkan
bahang (heat) yang mengalirkan air hangat di permukaan yang berlanjut dengan
aliran air dingin di lapisan dalam di samudra raya bumi ini dalam satu sistem
yang berterusan (continuous). Sistem sirkulasi yang sangat besar ini
akan sangat menentukan iklim global.
Gambar 1. (the Great Ocean Conveyor
Belt)
(2) Ada dua jenis massa air yang merupakan komponen ARLlNDO ini, yakni
massa air yang berasal dari Pasifik Utara dan massa air dari Pasifik Selatan.
Massa air dari Pasifik Utara yang terdiri dari North Pacific Subtropical Water
(disingkat dengan NPSW) dan North Pacific lntemediate Water (disingkat dengan
NPIW) masuk Perairan Indonesia melalui Selat Makassar. Massa air hangat di
permukaan yang mengalir ke Samudra Atlantik Utara akan menjadi berat karena
penguapan dan pendinginan yang kuat hingga massa air itu tenggelam ke lapisan
dalam pada kedalaman sekitar 1.000-2.000 meter. Air dingin di lapisan dalam ini
kemudian mengalir dan menyebar ke timur, sebagian masuk ke Samudra Hindia
bagian selatan dan sebagian lagi terus ke timur memasuki bagian selatan Samudra
Pasifik. Dari sini massa air dingin ini akan melanjutkan penyebarannya ke
seluruh Samudra Pasifik. Lewat proses penaikan air, arus ini kemudian mengalir
naik ke atas kemudian mengalami penghangatan. Dalam perjalanannya air hangat
ini kemudian melalui jalur sempit di selat-selat Indonesia sebagai Arlindo
(Arus Lintas Indonesia) yang selanjutnya ke Samudra Hindia sampai ke bagian
timur Afrika, dan dari situ lalu kembali lagi ke Samudra Atlantik. Demikianlah
sirkulasi global itu berjalan. Kekuatan arus dengan cara memprediksi
menggunakan berbagai macam metode tak langsung
untuk berbagai musim didapat perkiraan nilai transport massa air sebesar 1 hingga
22 Sv ke arah Samudera Hindia (lSv = 1 Sverdrup = 106m3/det.)
(KINDLE et al. dalam FIEUX 1995a).
Gambar 2. Jalur ARLINDO(Arus Lintas
Indonesia)
(3) Arlindo
mempunyai karaterisktik yang sangat terkait dengan fenomena besar alami yang
terjadi di bumi ini seperti El Nino dan La Nina. Kedua fenomena besar itu
merupakan gabungan (coupling) proses-proses dinamika atmosfer dan
samudra yang dipicu oleh terjadinya perubahan atau anomali iklim di Samudra
Pasifik. Apabila El Nino terjadi maka Indonesia akan dilanda kekeringan yang
berkepanjangan, kebakaran hutan yang meluas dan kegagalan panen yang akan
menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Namun pada saat yang sama
perairan di selatan Jawa dan Sumatra baik untuk nelayan, sementara di utara
Papua ikan tuna berpindah ke Samudra Pasifik. Sebaliknya La Nina akan menyebabkan
hujan yang berlebihan yang mengakibatkan bencana banjir, longsor, dan berbagai kerusakan
lingkungan. Namun di perairan Maluku-Halmahera dan utara Papua ikan tuna akan melimpah.
Oleh sebab itu para ilmuwan tertantang untuk memahami bagaimana jalinan segala keterkaitan
itu dengan harapan akan dapat membantu dalam peramalan atau prakiraan datangnya
El Nino atau La Nina untuk antisipasi mitigasi bencana dan di lain pihak memetic
manfaat yang potensial dalam perikanan.
Gambar 3. Kejadian El Nino di Indonesia
(4) Arlindo
dengan segala variasinya akan mempengaruhi ekosistem perairan laut Indonesia
yang pada gilirannya sangat menentukan potensi sumberdaya hayati termasuk perikanan.
Variabilitas suhu permukaan laut di perairan Indonesia terutama di bagian timur
diperkirakan akan mengikuti fluktuasi ARLINDO. Pada saat El Nino suhunya akan
turun dan saat La Nina suhunya akan lebih tinggi daripada periode El Nino (Buku
Instant,2005). Oleh karena itu pemahaman akan dinamika Arlindo diharapkan akan
dapat membantu upaya pengelolaan sumberdaya hayati di kawasan ini.
Gambar 4. Dinamika ElNino terhadap
ARLINDO
Keterkaitan
ARLINDO dengan Garis Wallace
Arus Katulistiwa Utara
(AKU) dan Arus Katulistiwa Selatan (AKS) yang berkumpul di tempat itu
menyebabkan perbedaan tarah (permukaan yang rata) laut (sea level) 40 cm lebih
tinggi dibandingkan dengan yang di selatan pantai Jawa-Sumbawa. Hal ini
yang membuat pola aliran massa air dari Samudera Pasifik yang didorong lewat
Indonesia ke Samudera Hindia. Lintasan ini merupakan bagian dari Great Ocean
Conveyor Belt, yaitu siklus global pergerakan lautan dunia. Karena itu,
Arlindo berperan penting dalam perkembangan iklim dunia.
Hasil pengukuran yang
dicatat EWIN 2014 di lokasi penelitian Laut Sulawesi menunjukkan bahwa pola sirkulasi dekat permukaan
ditandai oleh eksistensi aliran arus kuat yang mengarah ke selatan yang diduga
sebagai inflow arus tepi barat dari Arlindo. Pola ini berjarak sekitar 83
km ke arah timur dari pantai terdekat, dengan lebar aliran 110 km. Arus
cenderung kuat dengan bertambahnya kedalaman, seperti di perairan Derawan. Pengukuran
temperatur yang dilakukan EWIN 2014 juga mengindikasikan stratifikasi massa
air. Lapisan termoklin terletak di bawah tercampur (mixed layer),
ditandai dengan menurunnya gradien temperatur di kedalaman 100-400 meter. Di
bawah lapisan termoklin ini tercatat temperatur
kurang dari 8 derajat Celcius.
Arus ini kemudian
berbelok ke arah tenggara menyusuri topografi dangkal. Percabangan arus terjadi
di sebelah utara dari mulut Selat Makassar. Satu cabang masuk ke Selat Makassar
sebagai Arlindo Makassar, satu cabang lagi ke arah timurlaut. Di tepi
sumbu utama aliran arus kuat, terdapat wilayah transisi dengan arus yang
relatif lemah. Hasil observasi EWIN 2014 ini menjadi temuan pertama kali,
sekaligus mengkonfirmasi permodelan Arlindo tentang arus batas barat (western
boundary current).
Arlindo tidak hanya
membawa massa air yang kaya nutrien dan oksigen. Arus lintasan ini berperan
besar dalam proses distribusi larva berbagai biota di Laut Sulawesi dan Selat
Makassar. Laut Sulawesi memiliki kekhasan dan keunikan dengan
adanya garis Wallace dan Arlindo. Perpaduan pola permodelan garis
Wallace dan Arlindo memiliki kemiripan.
Garis Wallace sebagai pembatas dengan kekhasan spesies di darat
(Sulawesi), sedangkan Arlindo sebagai satu pintu masuk sirkulasi massa air yang
memiliki keanekaragaman biota laut. Spesies di darat terisolasi dalam
ruang hidup di pulau dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Di laut,
dengan Arlindo sebagai jalur distribusi larva dan berbagai organisme dari
Samudera Pasifik ke Laut Sulawesi, Selat Makassar, hingga Samudera Hindia.

Gambar 5.
Keterkaitan ARLINDO dengan Garis Wallace
Dibuat:
Rabu, 1 Januari 2020, 9.30 WITA
Tugas UAS Pengantar
Oseanografi_BatuLicin_Kalimantan Selatan
Sumber:
Pranowo,
Widodo Setiyo., Kuswandhani, A. Rita Trisiana Dwi., Kepel, Terry Louise.,
Kardawati, Utami Retno., Makarim, Salvienty., dan Husrin, Semeidi,. (Desember
2005). Ekspedisi INSTANT 2003-2005: Menguak Arus Lintas Indonesia. Cetakan
Pertama. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-Hayati, Badan Riset
Perikanan dan Kelautan: Departemen Kelautan dan Perikanan
Gordon, A. L.
2005. Oceanography of the Indonesian Seas and their throughflow. Oceanography
18 (4): 14-27.
Nontji, Anugrah.
(Juli, 2017). ARLINDO (Arus Lintas Indonesia): Koridor Penting dalam Sistem
Sirkulasi Samudra Raya. LIPI.
Hasanuddin,
M,.1998. Arus Lintyas Indonesia (ARLINDO). Oseana. Vol. XXIII (2). LIPI
Verrianto
Madjowa, Kompas.com_19/11/2017




Good baby 👍
BalasHapus