Angin Muson.


TERJADINYA ANGIN MUSON
Oleh: Marissa Septa Hanifa_MSP_FPK_ULM_2020
Jika sebelumnya kita membahas ARLINDO atau Arus Lintas Indonesia, mari kita ulas kembali sedikit agar mengingatnya. Dinamika oseanografi perairan di Selatan Jawa dipengaruhi oleh keterkaitan yang kompleks antara gaya penggerak jauh (remote forcing) dari bagian ekuator Samudra Hindia serta pengaruh lokal yang kuat. Faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika perairan selatan Jawa, yaitu: (1) IOD (Indian Ocean Dipole), (2) ENSO (El Nino Southern Oscillationn), (3) Gelombang kelvin antar samudra, dan (4) ARLINDO (Arus Lintas Indonesia). Arus merupakan perpindahan massa air dari satu tempat ke tempat lain yang disebabkan karena berbagai faktor, seperti gradien tekanan, hembusan angin, perbedaan densitas atau pasang surut. Jalur ARLINDO yang melewati samudra Hindia-Pasifik, begitu pula dengan angin muson.
Kondisi oseanografi di Perairan Selatan Jawa secara umum dipengaruhi oleh Angin Muson yang lazim disebut sebagai ”Asian-Australian Monsoon System” yaitu Muson Tenggara (Southeast Monsoon) dan Muson Barat Laut (Northwest Monsoon). Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas apa itu Angin Muson beserta penjelasannya secara komplit.
 Angin adalah udara yang bergerak (berpindah) dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan lebih rendah atau dari daerah yang memiliki suhu/temperatur rendah ke wilayah bersuhu tinggi. Perbedaan suhu di atmosfer menyebabkan perbedaan tekanan udara dan mengakibatkan udara terus-menerus mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Bila terjadi perbedaan di antara pusat tekanan (yakni suhu atmosfer) terlalu tinggi, arus udara (yakni angin) menjadi sangat kuat.
Angin muson adalah angin yang bertiup setiap 6 bulan sekali dan selalu berganti arah. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Kata “Muson” berasal dari sebuah kata dalam Bahasa Arab yang memiliki arti “musim”. Kata ini umum digunakan untuk merujuk perubahan musim arah angin yang terjadi sepanjang pesisir Samudra Hindia khususnya di Laut Arab. Angin muson sering juga kita sebut dengan pergantian musim. Saat masih duduk di bangku sekolah Dasar, cara mengingat jadwal terjadinya angin muson melalui singkatan “OMAS”, yaitu Oktober hingga Maret untuk angin muson Barat (Musim Penghujan) dan April hingga September untuk angin muson Timur (Musim Kemarau). Salah satu hal yang mempengaruhi besar kecilnya tekanan udara pada angin muson ini adalah keberadaan matahari terhadap bumi. Menurut Perpustakaan Ilmu Geografi Indonesia (2016) terdapat 4 (empat) titik atau waktu matahari terhadap bumi, yaitu:
Ø  Pada bulan Juni, posisi matahari berada di 23,50 LU
Ø  Pada bulan September, posisi matahari berada diatas khatulistiwa
Ø  Pada bulan Desember, posisi matahari berada di 23,50 LS
Ø  Pada bulan Maret, posisi matahari berada diatas khatulistiwa
Gambar 1. Putaran Semu Tahunan Matahari
Menurut Pariwono (1999), sebagian besar perairan Indonesia, memiliki titik faktor utama sirkulasi arus permukaan relatif kuat yang ditiimbulkan karena adanya angin. Arus yang disebabkan oleh angin pada umumnya bersifat musiman, dimana pada satu musim arus mengalir ke satu arah dengan tetap. Pada musim berikutnya akan berubah arah sesuai dengan perubahan angin yang terjadi. Gaya Coriolis dipengaruhi oleh posisi lintang suatu wilayah. Semakin kecil letak lintang suatu wilayah, maka gaya Coriolis semakin kecil pengaruhnya. Itulah sebabnya angin siklon hampir tidak pernah terjadi di wilayah khatulistiwa. Semua hal ini bisa dirangkum sebagai hukum Buys Ballot, yaitu:
Ø  Angin mengalir dari tempat yang bertekanaan maksimum (dingin) ketempat yang bertekanan minimum (panas).
Ø  Pada Belahan Utara Bumi, udara/angin berkelok kekanan dan di Belahan Selatan berkelok ke kiri.
Ø  Pembelokan arah angin terjadi akibat adanya rotasi bumi dari Barat ke Timur dan bumi berbentuk bulat
Letak geografis perairan Indonesia yang berada. Kuatnya pengaruh angin muson pada Perairan Selatan Jawa terlihat melalui terbentuknya aliran massa air pada lapisan permukaan ke arah Tenggara di sepanjang Pantai Barat Daya Sumatera dan ke arah Timur di Selatan Jawa hingga Sumbawa selama bertiup angin Muson Barat laut. Terdapat variasi pola pergerakan angin massa air laut di Selatan Jawa, karena adanya variasi pola pergerakan angin sebagai pembangkit utama terjadinya pola pergerakan massa air laut di Selatan Jawa. Kondisi geografis tersebut dipengaruhi oleh sistem angin muson yang didominasi oleh berubahnya suhu dan salinitas massa air musiman. Pada Agustus (Musim Timur) dan Februari (Musim Barat) (Dingele (2001).
Gambar 2. Pola Jalur Angin Muson Hujan dan Kemarau
Terbentuknya Angin Muson dengan proses perubahan letak terbitnya matahari berpengaruh terhadap intensitas cahaya matahari pada wilayah yang berkaitan langsung dengan tempat lintasan peredaran semu matahari tersebut. Salah satu akibat dari peredaran semu tahunan matahari adalah terjadinya perubahan gerakan angin yang dikenal dengan nama angin muson.
Menurut Wyrtki (1961), di Indonesia terdapat dua macam angin muson, yaitu: 

Gambar 3. Angin Muson Barat dan Timur
1)      Angin muson barat
Angin dari benua Asia ini akan dibelokkan oleh gaya Coriolis pada saat melintasi Khatulistiwa dan terbentuklah angin monsoon baratan. Dikarenakan angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia serta Laut Cina Selatan. Proses Angin muson barat bertiup pada bulan Oktober sampai April pada saat kedudukan semu matahari berada di belahan bumi selatan sehingga penyinaran matahari di Benua Australia lebih tinggi dari penyinaran di Benua Asia. Akibatnya, udara di atas Benua Australia bertekanan minimum sedangkan di atas Benua Asia bertekanan maksimum sehingga bertiuplah angin dari Asia ke Australia, karena angin ini melalui samudra Hindia yang luas, maka angin tersebut mengandung uap air yang banyak sehingga menyebabkan musim penghujan di Indonesia.
Hastenrath (1985) juga menjelaskan bahwa pada Muson Barat Laut (Muson Barat) umumnya angin bertiup sangat kencang dan curah hujan tinggi. Pada musim Barat, angin dominan bertiup dari arah Barat Daya menuju Timur Laut dengan kecepatan 5,7 – 8,8 knot menyebabkan arus permukaan bergerak ke Timur dengan kecepatan rata-rata 0,4 knot.
2)      Angin muson timur
Angin muson timur bertiup mulai bulan April sampai Oktober pada saat kedudukan semu matahari berada di belajan bumi utara. Karenanya, penyinaran matahari di Benua Asia lebih tinggi dari pada penyinaran matahari di Benua Australia. Akibatnya, udara di atas Benua Asia bertekanan minimum sedangkan di atas Benua Australia bertekanan maksimum sehingga bertiuplah angin dari Australia ke Asia. Angin ini tidak banyak membawa uap air atau menurunkan hujan karena hanya melewati laut kecil dan jalur sempit seperti Laut Timor, Laut Arafuru, dan sebagian selatan Irian Jaya dan Nusa Tenggara. Kondisi angin Muson Tenggara (Muson Timur) umumnya relatif tenang dan curah hujan rendah. Pada musim Timur, angin bertiup dari arah Timur menuju Barat dengan kecepatan 8,8 – 11,1 knot menggerakkan arus permukaan ke Barat Laut dengan kecepatan rata-rata 0,18 knot.
Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba (peralihan), yaitu: (1) Musim kemareng merupakan peralihan awal dari musim penghujan ke musim kemarau. Periode Maret sampai April, dan (2) Musim labuh yang merupakan peralihan kedua musim kemarau ke musim penghujan. Periode September sampai Oktober. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu: Udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba alam waktu singkat dan lebat. Pada musim peralihan didapatkan suhu permukaan laut yang maximum, yaitu 31,70 Celcius dan minimum, yaitu 25,40 Celcius sepanjang tahun.
Adanya angin muson yang terjadi secara periodic di Samudra Hindia dan bagian Selatan Asia, angin muson atau pergantian musim ini juga memiliki dampak atau akibat yang ditimbulkan dari masing-masing angin muson terhadap Indonesia. Berikut penjelasan secara rinci:
a.       Angin Muson Barat (Musim Penghujan)
1)      Dampak Positif:
Adapun dampak positif terjadinya angin muson Barat adalah sebagai berikut:
·         Angin muson Barat membawa hujan, dapat dimanfaatkan oleh para petani di Indonesia mulai mengerjakan lahannya untuk bercocok tanam.
·        Tanaman-tanaman bisa lebih subur dan lebih hijau. Dengan banyaknya hujan, maka banyak air yang diserap oleh tumbuhan. Hal ini membuat tanaman lebih subur dan hijau karena air sangat berperan penting bagi tumbuhan.
·        Sawah tidak perlu memakai perairan buatan. Hal ini karena dengan hujan sawah juga bisa subur dan lebih hijau.
·        Dapat mengurangi polusi udara. Ketika hujan turun, maka polusi dan debu - debu yang ada di udara ikut larut dan hanyut bersama dengan air hujan. Sehingga dengan adanya musim hujan dapat mengurangi polusi udara.
·        Mengurangi risiko kebakaran hutan.
2)      Dampak Negatif
Adapun dampak negatif terjadinya angin muson Timur adalah sebagai berikut:
§  Nelayan Indonesia justru mengurangi kegiatan melaut karena biasanya pada musim hujan sering terjadi cuaca buruk dan gelombang laut cukup besar sehingga membahayakan mereka.
§  Hasil tangkapan nelayan sedikit dan terjadi kelangkaan pasokan ikan dan akibatnya harga ikan lebih mahal daripada biasanya.
§  Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan banjir  Meningkatnya penyakit demam berdarah. Saat musim hujan nyamuk-nyamuk akan keluar dari sarangnya dan meninggalkan telur-telurnya menetas dengan sendirinya dan dapat menimbulkan penyakit demam berdarah atau DBD.
§  Menyebabkan tanah longsor. Pada saat musim hujan, jika hujan tersebut sangat lebat dan terjadi terus menerus, hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya longsor di daerah perbukitan dan pegunungan. Apalagi ditambah dengan sedikitnya pohon di daerah tersebut (akibat dari penebangan pohon dan tidak dilakukan penanaman kembali) maka hal ini sangat berpotensial menyebabkan terjadinya tanah longsor.  
§  Panen petani gagal. Apabila terjadi musim hujan maka musim panen akan banyak menghadapi masalah, seperti tanah persawahan yang masih basah bahkan ada yang masih tergenang air, penjemuran padi yang sulit dilakukan di tempat terbuka karena hujan yang terus-menerus. Untuk daerah persawahan yang rawan genangan air akibat luapan sungai juga terancam gagal panen, karena dengan adanya hujan lebat bisa memicu banjir dan sungai meluap menggenangi areal persawahan. Padi akan menjadi rusak sebelum dipanen.
b.      Angin Muson Timur (Musim Kemarau)
1)      Dampak Positif
Adapun dampak positif terjadinya angin muson Timur adalah sebagai berikut:
·        Pada saat musim kemarau, nelayan dapat mencari ikan di laut tanpa banyak terganggu oleh cuaca buruk.
·        Hasil tangkapan ikan juga biasanya lebih besar dibandingkan dengan hasil tangkapan pada musim hujan sehingga pasokan ikan juga cukup berlimpah.
·        Bagi ibu rumah tangga, angin ini bermanfaat untuk mengeringkan pakaian.
2)      Dampak Negatif
Adapun dampak negatif terjadinya angin muson Timur adalah sebagai berikut:
§  Pada saat musim kemarau, sebagian petani terpaksa membiarkan lahannya tidak ditanami karena tidak ada pasokan air.
§  Warga kesulitan air bersih.
§  Berdampak pada kesehatan manusia seperi penyakit radang tenggorokan atau diare.
§  Banyaknya pohon yang mati dan jalan berdebu sehingga sering menimbulkan penyakit pernafasan seperti flu dan lainnya.
§  Mengalami kekeringan.
§  Dapat mengakibatkan kebakaran hutan
Angin yang bertiup sepanjang siang dan sepanjang malam sebenarnya menjadi potensi tenaga penggerak yang sangat besar, angin bisa diambil manfaatnya sebagai tenaga pendorong berbagai keperluan manusia, diantaranya:
Ø Angin sebagai tenaga penggerak awan yang akan dimanfaatkan untuk menurunkan hujan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam QS. Ar-Rūm:48
Ø Angin sebagai tenaga penggerak kapal-kapal layar di samudra, sehingga kapal itu dapat melaju dengan tenang ke arah tujuan yang sudah direncanakan. Hal yang demikian ini dijelaskan Allah dalam QS. Asy-syūrā:32-34.
Ø Angin sebagai faktor penting dalam penyerbukan. Penyerbukan dengan angin ini biasanya untuk tumbuh-tumbuhan biji terbuka dan biji tertutup yang bunganya tidak mempunyai kelopak perhiasan bunga atau kelopak perhiasannya kecil seperti beberapa jenis padi-padian, jenis pohon kurma dan sebagainya.

Dibuat: Kamis, 2 Januari 2020. 03:44 WITA
             Tugas UTS Pengantar Oseanografi_BatuLicin_Kalimantan Selatan
           
Sumber:
Charisma, Moh Chadziq,. 1991. Tiga Aspek Kemukdjizatan Al-Qur’an. PT. Bina Ilmu: Surabaya. Hal. 275-276
Fadika, Ulha., Rifa’I, Aziz., Rochaddi, Baskoro,. 2014. Arah dan Kecepatan Angin Musiman serta Kaitannya dengan Sebaran Suhu Permukaan Laut di Selatan Pangandaran Jawa Barat. Journal of Oceanography. Vol. 3(3). FPIK, UNDIP: Semarang.
Ilmu Geografi.com. (Maret, 2016). Angin Muson: Pengertian, Proses, Jenis dan Dampaknya. Pusat Ilmu Geografi Indonesia. (https://ilmugeografi.com/fenomena-alam/angin-muson)
Rita,. 2014. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VIII Semester 1. SMP Negeri 2 Ngemplak.
Surinati Dewi., Wijaya, Harry Mulyanto,. 2017. Arus Selatan Jawa. Oseana. Vol. XVII (3). Sumatra. Hal. 1-8.
Yananto, Ardila., Sibarani, Rini Mariana,. 2016. Analisis Kejadian El Nino dan Pengaruhnya Terhadap Intensitas Curah Hujan di Wilayah JABODETABEK (Studi Kasus: Periode Pucak Musim Hujan Tahun 2015/2016). Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca. Vol. 17(2). Balai Riset Teknologi Modifikasi Cuaca, PUSPITEK: Serpong. Hal. 65-73.

Komentar